Sunda Land Itu Ternyata Induk Peradaban Modern (SATU LAGI KEBANGGAAN SEBAGAI BANGSA INDONESIA )

JAKARTA – Selama ini kita mengetahui bahwa kawasan Mesir, Mediterania, dan Mesopotamia merupakan pusat peradaban modern. Yang tidak kita ketahui adalah, induk peradaban manusia modern di kawasan tersebut sebenarnya berasal dari tanah Melayu yang sering disebut dengan Sunda Land.

Hal ini dengan lugas diungkapkan oleh seorang ahli genetika dan struktur DNA manusia dari Oxford University , Inggris, Prof. Dr. Stephen Oppenheimer dalam bukunya yang berjudul Eden In The East.

Teori yang dikenal dengan nama Oppenheimer Theory ini merupakan simpulan dari riset yang dia lakukan selama puluhan tahun. Oppenheimer melakukan penelitian struktur DNA manusia sejak permulaan manusia modern ribuan tahun lalu, hingga yang saat ini hidup.

Tidak main-main, penelitian Guru Besar dari Oxford University tersebut pun menggunakan berbagai pendekatan filosofis dari lintas disiplin keilmuan seperti kedokteran, geologi, linguistik, antropologi, arkeologi, linguistik, dan folklore (cerita rakyat).

Oppenheimer juga menegaskan, orang-orang Polinesia yang menjadi penghuni Benua Amerika tidak berasal dari China seperti yang selama ini dipaparkan dalam berbagai buku pelajaran. Menurutnya, mereka berasal dari dataran yang hilang dari pulau-pulau di Asia Tenggara.

“Penyebaran kebudayaan dan peradaban tersebut disebabkan ‘banjir besar’ yang melanda permukaan bumi pada 30 ribu tahun yang lalu. Hal tersebut diperkuat oleh catatan-catatan cerita masyarakat Asia Tenggara yang banyak sekali tersimpan di museum purbakala mengenai banjir besar di periode tersebut,” demikian seperti dinukil dari situs Ufuk Press, Jumat (15/10/2010).

Teori penulis The Origin Of The British ini mendapat dukungan dari para peneliti di Oxford University dan Leeds University. Oppenheimer juga mengungkapkan, budaya cocok tanam seperti bertanam padi pertama kali berasal dari penduduk di Semenanjung Malaya pada 9.000 tahun lalu, bukan dari China atau India.

Penelitian Oppenheimer bahkan dikuatkan oleh riset tahunan yang dilakukan oleh Dr. Joanna Nichols. Simpulan besar dari kedua riset tersebut adalah, arus migrasi besar-besaran di dunia berasal dari masyarakat di Semenanjung Melayu menuju China. Dari Negeri Tirai bambu inilah penyebaran budaya dan peradaban dunia dimulai, bukan sebaliknya. Simpulan ini pun membantah teori yang menyatakan nenek moyang masyarakat Asia Tenggara berasal dari China.

Teori peneliti ahli sekaligus penulis tetap Oxford Science Review tersebut tampaknya memperkuat temuan Prof. Arysio Santos dalam buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found. Di buku ini, Santos juga menggunakan pendekatan lintas disiplin ilmu. Santos dan Oppenheimer menunjukkan, pendekatan lintas disiplin ilmu diperlukan dalam rekonstruksi sebuah mata rantai yang hilang dalam sejarah peradaban dunia modern. Mereka pun dijadwalkan bertandang ke Indonesia untuk mempresentasikan dan mendiskusikan penemuannya pada 28-29 Oktober mendatang

Iklan

Tentang dpdppmisumut

wadah organisasi tempat bernaungnya para alumni BPAP ( Bakti Pemuda Antar Propinsi )
Pos ini dipublikasikan di sejarah. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s